televisi vs streaming
Tantangan TV Konvensional Menghadapi Gempuran Platform OTT (Netflix, dll)
brieflyri – Coba ingat kembali masa kecil Anda. Pukul 7 malam adalah “waktu keramat” di mana seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah, berebut remote control (atau tombol fisik di TV tabung), demi menonton sinetron favorit atau berita nasional. Televisi adalah satu-satunya jendela dunia, dan kita tidak punya pilihan selain menuruti jadwal tayang yang sudah ditentukan oleh stasiun TV. Iklan yang panjang? Ya, mau tidak mau harus ditonton—atau dijadikan jeda ke kamar mandi.
Namun, geser waktu ke hari ini. Kapan terakhir kali Anda menyalakan TV untuk menonton saluran free-to-air (UHF)? Mungkin sudah jarang, atau bahkan TV di rumah Anda kini fungsinya hanya sebagai layar monitor raksasa yang tersambung ke internet. Di tangan kita sudah ada smartphone dengan akses tanpa batas ke Netflix, Disney+, Viu, hingga YouTube. Kita bisa menonton apa saja, kapan saja, dan di mana saja.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan kebiasaan, melainkan sebuah gempa besar yang mengguncang industri broadcast. Pertarungan antara televisi vs streaming bukan lagi sekadar prediksi masa depan, tapi realita brutal yang terjadi di depan mata. Apakah televisi konvensional akan punah seperti dinosaurus, atau mereka punya strategi rahasia untuk bertahan hidup? Mari kita bedah satu per satu.
Pergeseran Budaya: Dari “Appointment Viewing” ke “Binge-Watching”
Dulu, kita mengenal istilah appointment viewing. Artinya, kita harus membuat janji dengan waktu untuk menonton acara tertentu. Jika ketinggalan episode Tersanjung atau Si Doel, ya sudah, nasib. Anda harus menunggu tayangan ulang atau mendengar cerita spoiler dari teman sekolah besoknya. Pola ini menciptakan loyalitas audiens yang sangat tinggi pada jam-jam prime time.
Sekarang? Budaya itu digilas oleh On-Demand viewing dan binge-watching. Generasi Milenial dan Gen Z tidak punya kesabaran untuk menunggu minggu depan demi satu episode lanjutan. Mereka ingin melahap satu season penuh drama Korea atau serial Stranger Things dalam satu malam suntuk.
Data perilaku konsumen menunjukkan penurunan drastis penonton TV konvensional di kalangan usia 18-34 tahun. Industri broadcast dipaksa menghadapi kenyataan bahwa audiens muda mereka lebih memilih “layar kedua” (ponsel/tablet) daripada layar utama di ruang tamu. Ini adalah tantangan demografis yang mematikan: jika anak muda tidak nonton TV sekarang, siapa yang akan nonton TV 10 tahun lagi?
Konten adalah Raja, Kenyamanan adalah Ratu
Dalam duel televisi vs streaming, faktor kenyamanan menjadi senjata utama platform OTT (Over-The-Top). Bayangkan Anda sedang asyik menonton adegan klimaks film di TV, tiba-tiba dipotong oleh jeda iklan obat nyamuk selama 5 menit. Frustrasi, bukan?
Platform streaming menawarkan pengalaman yang mulus. Tanpa iklan (pada paket premium), fitur skip intro, hingga kemampuan melanjutkan tontonan tepat di detik terakhir kita berhenti (resume). Selain itu, konten di OTT sering kali lebih berani, variatif, dan tidak terlalu terbelenggu oleh sensor ketat yang kadang membuat tontonan TV konvensional terasa kaku dan penuh sensor buram.
Netflix dan kawan-kawannya berani menggelontorkan miliaran dolar untuk memproduksi konten orisinal (Netflix Originals) dengan kualitas setara bioskop. Bandingkan dengan sinetron kejar tayang di TV yang kadang kualitas naskah dan produksinya digarap terburu-buru. Kualitas pada akhirnya berbicara, dan penonton rela membayar langganan demi kualitas tersebut.
Perebutan Kue Iklan: Pendarahan Finansial TV
Mari bicara soal uang, karena ini adalah nadi dari setiap bisnis. Selama puluhan tahun, stasiun TV hidup makmur dari belanja iklan perusahaan-perusahaan besar. Prime time adalah ladang emas. Namun, seiring dengan bermigrasinya penonton ke digital, anggaran iklan pun ikut pindah.
Brand kini lebih suka menaruh uang mereka di YouTube, media sosial, atau platform streaming yang menawarkan data penonton lebih spesifik (targeted ads). Di TV, Anda memasang iklan pembalut wanita yang mungkin ditonton oleh bapak-bapak. Tidak efisien. Di digital, iklan itu hanya akan muncul di layar wanita usia produktif.
Pendarahan finansial ini memaksa industri broadcast melakukan efisiensi besar-besaran. Akibatnya? Kualitas acara menurun, daur ulang program lama, atau memperbanyak gimmick di acara variety show demi menekan biaya produksi. Ini menjadi lingkaran setan: kualitas turun, penonton kabur, iklan makin sepi.
Benteng Terakhir TV: Berita, Olahraga, dan Lokalitas
Namun, jangan buru-buru menulis obituari untuk TV konvensional. Mereka masih memegang kartu truf yang sulit ditandingi oleh Netflix: Siaran Langsung dan Konten Hiper-Lokal.
Pertandingan Timnas Indonesia, Liga 1, atau debat Calon Presiden masih menjadi momen di mana jutaan orang Indonesia kembali menyalakan TV. Sensasi menonton siaran langsung secara kolektif (communal viewing) belum sepenuhnya bisa digantikan oleh streaming yang sering kali memiliki delay beberapa detik.
Selain itu, segmen pasar “emak-emak” di pedesaan atau kota lapis kedua masih sangat setia pada sinetron lokal dan dangdut academy. Faktor bahasa, budaya, dan akses internet yang belum merata di seluruh pelosok Indonesia membuat TV UHF masih menjadi hiburan utama yang murah (gratis) bagi sebagian besar masyarakat. Inilah benteng pertahanan industri broadcast yang membuat mereka masih bernapas hingga hari ini.
Algoritma vs Intuisi Program Director
Salah satu perbedaan paling mencolok dalam perang televisi vs streaming adalah penggunaan data. Platform OTT adalah perusahaan teknologi yang berkedok perusahaan hiburan. Mereka tahu persis jam berapa Anda nonton, genre apa yang Anda suka, bahkan di menit ke berapa Anda bosan dan mematikan film.
Netflix tidak menebak-nebak apa yang Anda suka; mereka menyodorkannya lewat algoritma rekomendasi yang sangat presisi. “Karena Anda menonton A, Anda mungkin suka B.”
Sebaliknya, TV konvensional masih mengandalkan intuisi Program Director dan data rating (seperti Nielsen) yang sifatnya sampel dan baru keluar setelah tayangan selesai. TV sifatnya “satu menu untuk semua”, sementara streaming adalah “prasmanan personal”. Di era di mana orang ingin merasa spesial dan dimengerti, pendekatan personalisasi OTT jelas lebih menang.
Adaptasi atau Mati: Strategi Hybrid
Menyadari ancaman eksistensial ini, para pemain lama di industri broadcast Indonesia tidak tinggal diam. Mereka mulai menerapkan strategi: “Jika tidak bisa melawan mereka, jadilah seperti mereka.”
Lihatlah bagaimana grup media besar meluncurkan platform digital mereka sendiri (seperti Vidio milik Emtek, RCTI+ milik MNC, atau Vision+). Mereka mencoba menggabungkan kekuatan konten lokal (sinetron dan olahraga) dengan kemudahan akses digital. Ini adalah langkah cerdas.
Model bisnis hybrid ini memungkinkan mereka meraup kue iklan digital sekaligus mempertahankan basis penonton TV. Mereka menyadari bahwa masa depan bukan tentang mematikan TV, tapi tentang mendistribusikan konten TV ke berbagai layar (multi-platform). Jadi, kontennya tetap “TV”, tapi cara nontonnya sudah rasa “Streaming”.
Kendala Infrastruktur: Penyelamat Sementara TV
Satu hal yang sering dilupakan dalam diskusi ini adalah realitas infrastruktur internet di Indonesia. Streaming butuh kuota data yang tidak murah dan koneksi stabil. Bagi masyarakat di wilayah kepulauan atau pegunungan dengan sinyal lemot, atau bagi mereka yang menganggap kuota internet adalah barang mewah, TV digital (yang kini sudah bening tanpa “semut”) adalah solusi terbaik.
Selama kesenjangan digital (digital divide) masih ada, TV konvensional akan tetap memiliki tempat. Ini memberi waktu bagi industri broadcast untuk berbenah sebelum internet berkecepatan tinggi benar-benar merata dan murah di seluruh pelosok negeri.
Kesimpulan
Pertarungan televisi vs streaming bukanlah zero-sum game di mana satu pihak harus mati agar pihak lain bisa hidup. Yang terjadi saat ini adalah evolusi ekosistem media. TV konvensional tidak akan punah dalam waktu dekat, tetapi peran dominannya sebagai “penguasa ruang tamu” sudah berakhir.
Masa depan industri broadcast terletak pada kemampuan mereka beradaptasi. Mereka harus berhenti melihat diri mereka sebagai “stasiun televisi” dan mulai melihat diri sebagai “produsen konten”. Platformnya bisa berubah—bisa lewat gelombang UHF, satelit, atau kabel optik internet—tetapi selama kontennya relevan, menghibur, dan dekat dengan hati masyarakat, mereka akan tetap bertahan. Bagi kita penonton, ini adalah era keemasan; kita punya kendali penuh di ujung jari. Pertanyaannya sekarang, apa yang akan Anda tonton malam ini?